Minggu, 31 Oktober 2010

Ucapkan "SALAM" kenal atau tidak

Salam adalah pintu lebar yang memungkinkan seseorang untuk masuk ke dalam hati orang lain. Salam juga bisa menciptakan ketentraman hati orang yang sedang ketakutan, menenangkan orang yang sedang tersesat, dan mendekatkan orang yang jauh, Salam juga bisa menciptakan kasih sayang dan menjauhkan setan.

Allah Berfirman :
"Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya" (Q.S. an-Nisa':86).


Selain itu Allah juga berfirman :
"Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan. (ingatlah) ketika mereka masuk ketempatnya lalu mengucapkan "salaamun" Ibrahim menjawab : "salaamun" (kamu) adalahorang-orang yang tidak dikenal" (Q.S. adz-Dzariyat : 24-25).

Nabi SAW bersabda :
"Ketika Allah menciptakan Adam As, Allah berfirman : "Pergilah dan ucapkan salam kepada mereka -sekelompok malaikat yang sedang duduk- dan dengarkanlah bagaimana mereka memberikan penghormatan kepadamu, sesungguhnya itu adalah bentuk penghormatan terhadap dirimu dan terhadap keluargamu". Maka Adam-pun berkata : "Assalamu'alaikum", kemudian para malaikatpun menjawab : "Assalamu'alaik warahmatullah, mereka menambahkan : warahmatullah" (Muttafah'Alaihi)

Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW : "Islam manakah yang bisa disebut Islam yang baik?" Rasulullah menjawab : "Memberi makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang dikenal maupun tidak" 

Dan Imam Muslim juga meriwayatkan daru Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :
"Kalian semua tidak akan masuk surga hingga kalian mau beriman, dan kalian belum disebut beriman ketika kalian tidak saling menyayangi, apakah aku belum memberitahukan kepada kalian mengenai sesuatu hal yang apabila kalian lakukan bisa menumbuhkan kasih sayang diantara kalian? Ucapkanlah salam diantara kalian".(Al-Hadis)

Dari Abi Yusuf Abdillah bin Salam "Aku mendengar Rasulullah bersabda :
"Hai manusia sebarkan salam diantara kalian, berikanlah makanan, sambunglah tali silaturahmi, dan shalatlah ketika orang-orang sedang tidur maka kalian akan masuk surga dengan selamat". (H.R. Tirmidzi)

Dari Abu Yusuf diriwayatkan bahwa semua orang berkewajiban menjawab salam (meskipun ketika bersama dengan jama'ah). Sementara Ibnu Abdil Barr dan selainnya mengutip kesepakatan kaum muslimin bahwa memberi salam adalah sunah dan menjawabnya adalah wajib.

Rasulullah SAW bersabda :
"Lima hal yang harus dilakukan oleh seorang muslim terhadap saudaranya (sesama muslim) adalah : mejawab salam, mendo'a-kan orang yang bersin, memenuhi undangan, menegok orang sakit dan mengantarkan jenazah". (H.R. Muslim).

Dalam ajaran Islam, istilah yang digunakan untuk memberi salam adalah istilah " Asslamu'alaikum" atau Assalamu'alaik". Imam Nawawi mengatakan : " Memberikan salam minimal dengan ucapan                       "Assalamu'alaikum". Dan jika orang yang diberi salam satu orang, maka setidaknya dengan ungkapan              "Assalamu'alaik". Tapi yang lebih utama adlah dengan mengucapkan "Assalamu'alaikum" karena bersifat lebih umum. dan lebih sempurna lagi adalah dengan menambahkan kata-kata "Warahmatullah" dan juga "Wabarakatuh", meskipun ketika seseorang mengucapkan ungkapan "Salamun alaika" sudah dianggap cukup.  Rasulullah SAW. telah melarang seorang laki-laki mengucapkan "Alaika as-salam". Abi Jar'i al-Hujaimi mendatangi Rasulullah SAW, lalu mengucapkan "Alaika as-salam" ya Rasulullah. Rasulullah menjawab : "Jangan katakan "Alaika as-ssalam" itu merupakan penghormatan terhadap orang yang sudah mati". (H.R. Abu Daud & Tirmidzi).

Adapun istilah yang digunakan untuk menjawab salam, menurut Imam Nawawi dalam syarah kitab Sahih Muslim adalah : Adapun ketika menjawab salam maka yang lebih utama dan lebih sempurna adalah dengan mengucapkan : "Wa'alaikum as-salam warahmatullahi wabarakatuh". Ditambah dengan huruf "wawu" yang diletak sebelum kata "Alaikum". Maka membuang "Warahmatullhi wabarakatuh" diperbolehkan, tapi berarti telah meninggalkan keutamaan.
Adapun ketika hanya mengucapkan "Wa'alaikum as-salam" atau "Alaikum as-salam" ini juga diperbolehkan. Tapi ketika hanya mengucapkan "Alaikum" saja, menurut semua pendapat hal ini tidak diperbolehkan. Sementara ketika mengatakan : "Wa'alaikum" (ditambah dengan "wawu" didepan) maka mengenai kebolehannya terdapat dua pendapat, yaitu sebagian pendapat memperbolehkannya dan sebagian lain tidak".

(Disunting dari buku karangan Dr. Ali Hammady dengan Judul "Don't Be Crazy! yang diterjemahkan oleh Dwi Ratnasari, penerbit DIVA Press).







Jumat, 09 Juli 2010

MENDAPAT BONUS, SEORANG GUBERNUR MENGUCAP " Inna Lillahi"



     Gubernur adalah satu jabatan tinggi pemerintah yang di-idamkan oleh banyak orang, karena selain dapat mengangkat status sosial, juga danggap dapat memberi peluang untuk mendapatkan kehidupan serba berkecukupan bagi seseorang. Namun tidak demikian hal nya dengan orang yang memandang bahwa jabatan itu adalah amanat berat yang harus dipertanggung-jawaban dihadapan publik di dunia dan kelak dihadapan Allah SWT. Inilah yang dialami oleh Said bin Amir, seorang lelaki Shalih generasi awal Islam pada masa Khalifah Umar bin al Khatthab.

     Beberapa waktu setelah Said bin Amir diangkat menjadi Gubernur Hamah (wilayah Syam dalam sejarah Islam klasik), rombongan yang terdiri dari beberapa tokoh dari wilayah itu datang ke ibu kota kekhalifahan Islam, Madinah untuk menemui Khalifah Umar bin al-Khatthab. kesempatan itu digunakan khalifah untuk mendengar keadaan rakyatnya dan perkembangan wilayah itu. Maka khalifah meminta agar ketika  kembali ke Syam mereka mendata nama-nama fakir miskin di seluruh wilayah itu untuk diberi alokasi dana tunjangan dari kas negara, Baitul Mal. Beberapa waktu berselang rombongan itu kembali lagi ke Madinah dengan membawa data nama fakir miskin yang diminta oleh Khalifah. Dengan penuh perhatian, khalifah membaca nama-nama itu satu per satu. Namun raut muka Khalifah tiba-tiba berubah setelah melihat nama Said bin Amir, lalu menanyakan siapa Said bin Amir itu. Wajah Khalifah pun tampak semakin gundah mendapat jawaban bahwa nama itu tidak lain adalah gubernur mereka, bukan Said bin Amir lain. Seakan tidak percaya dengan jawaban yang baru saja ia didengar, Khalifahpun semakin penasaran. Mereka kemudian menuturkan bahwa gubernur mereka sangat miskin dan menjalankan hidup nyaris serba kekurangan.

     Mendengar keadaan gubernurnya yang belum lama ia angkat itu hati Umar merasa tersayat dan air matanya pun membasahi kedua kelopak matanya. Kemudian ketika rombongan itu hendak kembali ke Syam dengan membawa uang untuk dibagikan kepada para fakir miskin, Khalifah juga menitipkan uang 1000 dinar khusus untuk diberikan kepada gubernur Said bin Amir, dengan harapan agar dengan uang itu ia dapat hidup layak bersama denga keluarganya.

     Namun diluar dugaan, ketika menerima pemberian Khalifah Umar itu, Said bin Amir justru mengucap :       " Inna Lillahi wa inna lillahi raji'un." Mendengar kata-kata yang lazim diucapkan ketika terjadi musibah ini, isterinya yang sedang berada di balik ruangan terkejut dan bertanya heran : "Apakah Khalifah Umar meninggal dunia?!" Said menjawab: "Oh tidak, bahkan musibah ini lebih besar dari pada kematian khalifah. Godaan dunia telah mendatangiku untuk menghancurkan akhiratku!" Isterinya yang belum mengetahui masalah uang dinar pemberian khalifah ini, berkata lagi :"Kalau begitu selamatkan dirimu dari petaka itu!" Kemudian Said memanggil isterinya dan menjelaskan duduk masalahnya lalu meminta kepadanya agar ia ikut membagi-bagikan uang itu kepada para fakir miskin. Gubernur dan isterinya yang dikenal miskin oleh rakyatnya pun sibuk mendatangi para fakir miskin denga membawa uang itu.

   Suatu ketika Khalifah Umar mengadakan kunjungan resmi ke Hamah untuk meninjau keadaan penduduknya dan melihat perkembangan wilayah itu. Dalam majelis pertemuan bersama para wakil masyarakat, Umar menanyakan tentang gubernur yang ia angkat. Mereka menjelaskan bahwa meskipun Gubernur mereka pejabat yang baik, tetapi mereka mengeluh tiga hal tentang Gubernur mereka itu. Khalifah lalu mempertemukan  mereka dengan Gubernur dan mempersilakan mereka menjelaskan tentang tiga hal yang dikeluhkan.

     Mereka mengadukan bahwa Gubernur Said bin Amir selalu terlambat keluar        rumah untuk menjalankan tugas-tugasnya. Lalu Umar menanyakan tentang        kebenaran keluhan mereka kepada Gubernur Said bin Amir. Ia menjawab :        "Wahai Amirul Mu'minin, sesungguhnya aku malu mengatakannya, aku tidak        mempunyai pembantu untuk mengerjakan pekerjaan  rumah tangga, sehingga        setiap pagi aku bersama isteriku menumbuk gandum, lalu memasaknya menjadi        roti. baru setelah itu aku mengambil air wudhu untuk shalat zhuhur bersama       warga dan menjalankan tugas-tugasku hingg sore hari.


      Mereka mengadukan bahwa Gubernur mereka tidak pernah bersedia menghadiri        undangan acara-acara di waktu malam hari. Lalu Khalifah meminta Said bin        Amir untuk menjelaskan. Ia menjawab : "Wahai Amirul Mu'minin sebenarnya        aku juga malu mengatakannya. Sepanjang siang aku bekerja mengurusi  mereka        hingga sore hari, sedangkan pada waktu  malam hari aku memanfaatkan waktu        untuk beribadah kepada Allah.


      Mereka mengadukan bahwa gubernur mereka satu hari dalam setiap bulannya        tidak mucul sama sekali di tengah rakyat. Setelah Khalifah meminta penjelasan,        ia menjawab : "Wahai  Amirul Mu'minin, sebenarnya aku juga enggan untuk        mengatakannya. Satu kali dalam sebulan aku mencuci pakaian yang biasa aku        pakai di luar rumah dan menjemurnya hingga kering, padahal aku tidak        mempunyai pakaian selain yang aku pakai setiap hari itu".

      Mendengar jawaban gubernurnya ini, Khalifah Umar merasa lega, sebab meskipun miskin tetapi kemiskinan yang dialami adalah kemiskinan yang bermutu tinggi. Kemudian Umar berkata : "Alhamdulillah, jadi aku tidak salah memilihmu wahai Said."

       Sulit dibayangkan, seorang Gubernur mempunyai sikap hidup zuhud seperti ini, tidak tampak sedikitpun minat apalagi keserakahan pesona dunia. Dari sisi kehidupannya ini, bukan kemiskinan Said bin Amir ini yang patut diteladani, melainkan kebesaran jiwanya dan sikap mental dan etos kerjanya yang patut diambil sebagai pelajaran; bukan kesediaannya menerima bonus dari atasan yang patut diteladani, melainkan bagaimana ia menyikapi bonus tersebut yang patut dihayati; bukan keterlambatannya ketempat kerja yang patut diteladani, melainkan rasa tanggung jawab dan kehormatannya dalam rumah tangga dan juga di tempat kerja yang patut ditiru; bukan kemalasannya keluar rumah di malam hari yang patut dicatat melainkan bagaimana ia membagi usia antara membaur dengan masyarakat dan menyendiri bersama Allah. Disana Said bin Amir membedakan antara kebutuhan dan keinginan; antara cahaya Ilahi dan bisikan setan di hati! Kepahlawanan adalah esensi sejarah yang menjadi keteladanan bagi generasi berikutnya.



Catatan : Kisah diatas disadur dari buku : 
              "KISAH KISAH UNIK SISI KEHIDUPAN PELAKU SEJARAH ISLAM"
              Oleh Fahrurrazi Meng
              Penerbit Griya Ilmu Jakarta 


Minggu, 28 Maret 2010

TOBATNYA PARA PENGUASA SEBELUM MASA RASULULLAH SAW

SEORANG RAJA DARI BANI ISRAIL


      Diriwayatkan dari Abdul Wahid bin Zaid, Pada zaman dahulu pada kaum bani Israil terdapatlah seorang ahli ibadat kepada Allah. Dia tiada mempunyai sesuatu yang berharga, terkecuali sekadar selembar kain jubah wool dan sebuah geriba tempat air untuk memberi minum kepada orang-orang yang membutuhkan.


      Ketika menjelang sekaratul maut, dia sempat berkata kepada sahabat-sahabatnya, 'Aku tidak akan meninggalkan harta-benda sedikitpun, kecuali sekadar  kain jubahku dan sebuah geriba ini, karena aku tidak akan sanggup membawanya pada hari kiamat nanti. Sepeninggalku nanti, berikanlah barang-barang itu kepada si Fulan yang menjadi raja, agar ia membawanya beserta harta-benda yang dimilikinya.'


      Pada akhirnya laki-laki itu pun menghembuskan nafas terakhir, semua temannya lalu memberitahukan perihal apa yang diwasiatkan oleh sang ahli ibadat itu kepada raja mereka. Mendengar cerita mereka itu, sang raja berkata, 'Orang yang ahli ibadat ini tidak mampu membawa kain jubah dan geribanya, sedangkan aku yang membawa dunia, tentu aku lebih tidak mampu.'


      Setelah berkata demikian, sang raja tersebut mengambil kain jubah itu dan mengenakannya serta diambilnya pula geriba tempat air, kemudian keluarlah dia dari istananya untuk memberikan minum kepada semua orang yang membutuhkannya."






Catatan : Disalin/disadur dari karangan "Ibnu Qudamah Al-Maqdisy" Judul : "Mereka Yang Kembali"
              diterjemahkan oleh : Abu Muhammad Najieh dan Mohammad Luqman Hakiem