Jumat, 09 Juli 2010

MENDAPAT BONUS, SEORANG GUBERNUR MENGUCAP " Inna Lillahi"



     Gubernur adalah satu jabatan tinggi pemerintah yang di-idamkan oleh banyak orang, karena selain dapat mengangkat status sosial, juga danggap dapat memberi peluang untuk mendapatkan kehidupan serba berkecukupan bagi seseorang. Namun tidak demikian hal nya dengan orang yang memandang bahwa jabatan itu adalah amanat berat yang harus dipertanggung-jawaban dihadapan publik di dunia dan kelak dihadapan Allah SWT. Inilah yang dialami oleh Said bin Amir, seorang lelaki Shalih generasi awal Islam pada masa Khalifah Umar bin al Khatthab.

     Beberapa waktu setelah Said bin Amir diangkat menjadi Gubernur Hamah (wilayah Syam dalam sejarah Islam klasik), rombongan yang terdiri dari beberapa tokoh dari wilayah itu datang ke ibu kota kekhalifahan Islam, Madinah untuk menemui Khalifah Umar bin al-Khatthab. kesempatan itu digunakan khalifah untuk mendengar keadaan rakyatnya dan perkembangan wilayah itu. Maka khalifah meminta agar ketika  kembali ke Syam mereka mendata nama-nama fakir miskin di seluruh wilayah itu untuk diberi alokasi dana tunjangan dari kas negara, Baitul Mal. Beberapa waktu berselang rombongan itu kembali lagi ke Madinah dengan membawa data nama fakir miskin yang diminta oleh Khalifah. Dengan penuh perhatian, khalifah membaca nama-nama itu satu per satu. Namun raut muka Khalifah tiba-tiba berubah setelah melihat nama Said bin Amir, lalu menanyakan siapa Said bin Amir itu. Wajah Khalifah pun tampak semakin gundah mendapat jawaban bahwa nama itu tidak lain adalah gubernur mereka, bukan Said bin Amir lain. Seakan tidak percaya dengan jawaban yang baru saja ia didengar, Khalifahpun semakin penasaran. Mereka kemudian menuturkan bahwa gubernur mereka sangat miskin dan menjalankan hidup nyaris serba kekurangan.

     Mendengar keadaan gubernurnya yang belum lama ia angkat itu hati Umar merasa tersayat dan air matanya pun membasahi kedua kelopak matanya. Kemudian ketika rombongan itu hendak kembali ke Syam dengan membawa uang untuk dibagikan kepada para fakir miskin, Khalifah juga menitipkan uang 1000 dinar khusus untuk diberikan kepada gubernur Said bin Amir, dengan harapan agar dengan uang itu ia dapat hidup layak bersama denga keluarganya.

     Namun diluar dugaan, ketika menerima pemberian Khalifah Umar itu, Said bin Amir justru mengucap :       " Inna Lillahi wa inna lillahi raji'un." Mendengar kata-kata yang lazim diucapkan ketika terjadi musibah ini, isterinya yang sedang berada di balik ruangan terkejut dan bertanya heran : "Apakah Khalifah Umar meninggal dunia?!" Said menjawab: "Oh tidak, bahkan musibah ini lebih besar dari pada kematian khalifah. Godaan dunia telah mendatangiku untuk menghancurkan akhiratku!" Isterinya yang belum mengetahui masalah uang dinar pemberian khalifah ini, berkata lagi :"Kalau begitu selamatkan dirimu dari petaka itu!" Kemudian Said memanggil isterinya dan menjelaskan duduk masalahnya lalu meminta kepadanya agar ia ikut membagi-bagikan uang itu kepada para fakir miskin. Gubernur dan isterinya yang dikenal miskin oleh rakyatnya pun sibuk mendatangi para fakir miskin denga membawa uang itu.

   Suatu ketika Khalifah Umar mengadakan kunjungan resmi ke Hamah untuk meninjau keadaan penduduknya dan melihat perkembangan wilayah itu. Dalam majelis pertemuan bersama para wakil masyarakat, Umar menanyakan tentang gubernur yang ia angkat. Mereka menjelaskan bahwa meskipun Gubernur mereka pejabat yang baik, tetapi mereka mengeluh tiga hal tentang Gubernur mereka itu. Khalifah lalu mempertemukan  mereka dengan Gubernur dan mempersilakan mereka menjelaskan tentang tiga hal yang dikeluhkan.

     Mereka mengadukan bahwa Gubernur Said bin Amir selalu terlambat keluar        rumah untuk menjalankan tugas-tugasnya. Lalu Umar menanyakan tentang        kebenaran keluhan mereka kepada Gubernur Said bin Amir. Ia menjawab :        "Wahai Amirul Mu'minin, sesungguhnya aku malu mengatakannya, aku tidak        mempunyai pembantu untuk mengerjakan pekerjaan  rumah tangga, sehingga        setiap pagi aku bersama isteriku menumbuk gandum, lalu memasaknya menjadi        roti. baru setelah itu aku mengambil air wudhu untuk shalat zhuhur bersama       warga dan menjalankan tugas-tugasku hingg sore hari.


      Mereka mengadukan bahwa Gubernur mereka tidak pernah bersedia menghadiri        undangan acara-acara di waktu malam hari. Lalu Khalifah meminta Said bin        Amir untuk menjelaskan. Ia menjawab : "Wahai Amirul Mu'minin sebenarnya        aku juga malu mengatakannya. Sepanjang siang aku bekerja mengurusi  mereka        hingga sore hari, sedangkan pada waktu  malam hari aku memanfaatkan waktu        untuk beribadah kepada Allah.


      Mereka mengadukan bahwa gubernur mereka satu hari dalam setiap bulannya        tidak mucul sama sekali di tengah rakyat. Setelah Khalifah meminta penjelasan,        ia menjawab : "Wahai  Amirul Mu'minin, sebenarnya aku juga enggan untuk        mengatakannya. Satu kali dalam sebulan aku mencuci pakaian yang biasa aku        pakai di luar rumah dan menjemurnya hingga kering, padahal aku tidak        mempunyai pakaian selain yang aku pakai setiap hari itu".

      Mendengar jawaban gubernurnya ini, Khalifah Umar merasa lega, sebab meskipun miskin tetapi kemiskinan yang dialami adalah kemiskinan yang bermutu tinggi. Kemudian Umar berkata : "Alhamdulillah, jadi aku tidak salah memilihmu wahai Said."

       Sulit dibayangkan, seorang Gubernur mempunyai sikap hidup zuhud seperti ini, tidak tampak sedikitpun minat apalagi keserakahan pesona dunia. Dari sisi kehidupannya ini, bukan kemiskinan Said bin Amir ini yang patut diteladani, melainkan kebesaran jiwanya dan sikap mental dan etos kerjanya yang patut diambil sebagai pelajaran; bukan kesediaannya menerima bonus dari atasan yang patut diteladani, melainkan bagaimana ia menyikapi bonus tersebut yang patut dihayati; bukan keterlambatannya ketempat kerja yang patut diteladani, melainkan rasa tanggung jawab dan kehormatannya dalam rumah tangga dan juga di tempat kerja yang patut ditiru; bukan kemalasannya keluar rumah di malam hari yang patut dicatat melainkan bagaimana ia membagi usia antara membaur dengan masyarakat dan menyendiri bersama Allah. Disana Said bin Amir membedakan antara kebutuhan dan keinginan; antara cahaya Ilahi dan bisikan setan di hati! Kepahlawanan adalah esensi sejarah yang menjadi keteladanan bagi generasi berikutnya.



Catatan : Kisah diatas disadur dari buku : 
              "KISAH KISAH UNIK SISI KEHIDUPAN PELAKU SEJARAH ISLAM"
              Oleh Fahrurrazi Meng
              Penerbit Griya Ilmu Jakarta 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar